Gogoner Reg Bandung as Marshal
By gunawan on Dec 12, 2009 | In Background | 1 feedback »
Berikut ini "Big Momma" Utu-428, gogoner Region bandung yang sedang bertugas sebagai marshal :
"Marshal" dan Persaudaraan di Jalan Raya
Puluhan marshal melayat ke rumah keluarga Sammuel (59) di Surabaya seusai etape ketujuh Speedy Tour d’Indonesia 2009 Madiun-Surabaya, Minggu (29/11). Mereka saweran uang untuk keluarga Sammuel. Tak banyak, yang penting ikhlas. Sammuel adalah marshal yang tewas tertabrak mobil di Subang, pekan lalu, saat hujan deras mengguyur.
”Rasa persaudaraan kami sangat erat, persaudaraan yang terjalin di jalan raya,” kata Tato Saputro (53), koordinator marshal yang sehari-hari bekerja sebagai koordinator Suzuki Club Indomobil, Jakarta.
Marshal, istilah ini biasa dipakai di jagat balap mobil, sepeda motor, balap sepeda, atau reli. Tugasnya membantu, mengawal, dan mengamankan para atlet di trek atau jalan raya. Dikenal istilah track marshal, pit marshal, atau marshal saja.
Di balap sepeda jalan raya, marshal kerap berhadapan dengan pengendara motor atau mobil yang enggan dan ngeyel jika diminta menepi. Di Tour d’Indonesia (TdI) 2009, ada 30 marshal inti dari Klub Suzuki Thunder 250 dari Jakarta, Bandung, Surakarta, Yogyakarta, Madiun, Surabaya, dan Bali.
Mereka mengawal balapan dari start hingga finis. Di setiap kota yang dilewati, marshal inti dibantu oleh marshal lokal. ”Marshal di tiap kota ini bertugas mengamankan sampai batas kota, menjemput saat finis, dan melepas saat mau start lagi. Selanjutnya, kami ber-30 yang mengatur jalan,” ujar Tato.
Terbayang betapa capai para marshal ini. ”Memang capai, tetapi kami senang. Jadi marshal itu harus sabar dan persuasif. Yang penting, mobilitas harus tinggi. Kami kadang melambung ke depan, lalu mundur. Harus hati-hati kalau jalan turunan karena kecepatan pebalap bisa 120 kilometer per jam,” kata Tato, yang menjadi marshal TdI sejak tahun 2000. ”Pengalaman duka banyak, tapi kami cepat melupakannya,” sambungnya.
Duka itu, apa termasuk menginap di hotel paling murah? ”Ha-ha-ha. Ah, yang senang-senang sajalah yang diingat,” kata Aiptu Bambang Iswiyanto, satu-satunya marshal polisi dari Poltabes Surakarta. ”Hotel murah tidak apa, yang penting kami bersama-sama,” ujar Ferry, marshal dari Bali.
Lantas, berapa honor untuk marshal? ”Ya sekitar Rp 3 juta per orang. Itu tidak termasuk ganti ban atau sirene kalau, misalnya, rusak,” kata seorang marshal. (IVV/WAS)
Disadur dari Kompas 30 November 2009
Trackback address for this post
Trackback URL (right click and copy shortcut/link location)
1 comment
This post has 8 feedbacks awaiting moderation...
Leave a comment
| « Tips Aman Ber-Facebook | Sambut Hari Guru, Microsoft Buka Bloggership 2010 » |
